Guru dan Wakil Kepala MA DDI Darun Najah Kaloling Meninggal Setelah Melahirkan, PGRI Bantaeng Gelar Upacara Pelepasan Jenazah

SUARAEDUKASI.ID BANTAENG 1 Februari  2026– Fitrah Ameliah, S.Pd, binti Muhammad Tahir, guru sekaligus wakil kepala Madrasah Aliyah (MA) DDI Darun Najah Kaloling, Kabupaten Bantaeng, meninggal dunia setelah melahirkan anak melalui proses sesar di RSUD Prof Anwar Makkatutu Bantaeng. Kabar duka ini menyebar cepat dan menyentuh hati banyak pihak, terutama warga Desa Kaloling dan lingkup pendidikan daerah. Menurut Ustadz Ramoddin, dalam kesehariannya, Fitrah Ameliah selalu penuh dedikasi. Setiap hari, beliau mengajar dan membina sekolah yang dipimpinnya, kemudian sepulang sekolah kembali aktif mengajar mengaji anak-anak di sekitar rumahnya di Desa Kaloling. Kegiatannya yang tidak kenal lelah menjadikan beliau sosok yang dicintai dan dihormati. Keluarganya menyampaikan, “Beliau adalah sosok pengorbanan, selalu mengutamakan kebaikan orang lain sebelum diri sendiri. Kecintaannya pada pendidikan dan anak-anak akan selalu terpatri dalam hati kita.” Sementara itu, rekan kerja di MA DDI Darun Najah Kaloling menambahkan, “Kehilangan beliau adalah kerugian besar. Beliau selalu berusaha meningkatkan kualitas pendidikan dan menjadi contoh bagi semua guru.” Untuk menghormati jasa dan bakti beliau semasa hidup, pengurus PGRI Kabupaten Bantaeng menyelenggarakan upacara pelepasan dan penghormatan terakhir di halaman rumah duka di Kaloling. Acara dimulai dengan pemberian uang duka, diikuti oleh Pembacaan apel persemayaman oleh Ketua PGRI Kabupaten Bantaeng yang diwakili oleh Ketua II PGRI Kabupaten Bantaeng menyampaikan apresiasi atas kontribusi beliau dan penghormatan dan apresiasi kepada beliau atas jasa jasanya serta kepada keluarga semoga diberi kesabaran dan menutup acara dengan doa bersama untuk kebahagiaan jiwa beliau. Warga Desa Kaloling juga menyampaikan kesedihan mendalam. Salah satu warga, menyatakan, “Beliau selalu bersedia membantu anak-anak kami belajar, tidak memandang latar belakang. Kepergiannya membuat lubuk hati kosong.” Banyak warga juga hadir dalam upacara pelepasan untuk memberikan penghormatan terakhir dan mengucapkan terima kasih atas jasanya. @Amykajang          

Read More

Dukungan Gubernur Sulsel Antar Dua Siswi SMAN 1 Bantaeng Raih Emas di Ajang Internasional World Youth STEM Invention di Bangkok

BANGKOK, THAILAND, SE — Prestasi gemilang kembali ditorehkan dunia pendidikan Sulawesi Selatan. Dua siswi SMAN 1 Bantaeng, Zakiyah Mardani Ratu dan Maraya Rachma Sharlis, sukses mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional World Youth STEM Invention & Innovation 2026 di Bangkok, Thailand. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan sekolah dan daerah, tetapi juga menjadi bukti nyata efektivitas perhatian dan dukungan strategis Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, dalam mendorong prestasi generasi muda di level global. Dalam kompetisi bergengsi yang diikuti pelajar dan inovator dari berbagai negara, kedua siswi tersebut meraih tiga penghargaan sekaligus, Medali Emas Untuk Kategori Presenter Terbaik, Medali Emas (Gold Medal) dan Special Award for Social Impact & Humanity dari The Philippine Youth Scientist Organization for Outstanding Innovation. Ajang internasional ini berlangsung selama sepekan, dari 29 Januari hingga 3 Februari 2026, dan menjadi arena kompetisi ide-ide inovatif di bidang sains, teknologi, kesehatan, dan lingkungan. Zakiyah dan Maraya mempresentasikan karya inovasi berjudul “Veston TB: The Potential of Soursop Leaves (Annona Muricata L) as Nonmicroplastic Tea Bags in Preventing the Risk of Cancer.” Sebuah gagasan visioner yang menggabungkan isu kesehatan, keberlanjutan lingkungan, dan dampak sosial. Inovasi tersebut mengusulkan pemanfaatan daun sirsak sebagai bahan kantong teh nonmikroplastik yang ramah lingkungan sekaligus berpotensi membantu menekan risiko kanker, sebuah solusi yang dinilai relevan, aplikatif, dan berdampak luas. Dewan juri internasional menilai karya ini unggul karena tidak hanya inovatif secara ilmiah, tetapi juga menyentuh aspek kemanusiaan dan kebermanfaatan sosial, sehingga layak menerima penghargaan tertinggi. Penghargaan resmi diserahkan oleh perwakilan Kedutaan Besar Malaysia dan President of the Philippine Youth Scientist Organization, Dr. Mutakhir Saeed Bhatti, dalam seremoni yang dihadiri delegasi berbagai negara. Keberhasilan ini berdiri di atas fondasi pembinaan yang kuat di SMAN 1 Bantaeng, di bawah bimbingan Ibu Herlina Wellang, S.Pd., M.Pd., serta kepemimpinan Kepala Sekolah Dr. Wahid Hidayat, S.Pd., M.Pd., yang konsisten mendorong budaya riset dan inovasi. Namun, faktor kunci yang memperkuat langkah para siswa adalah dukungan penuh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, yang memberikan perhatian, fasilitasi, dan support nyata sehingga para pelajar dapat tampil di panggung internasional dengan percaya diri. Kepala SMAN 1 Bantaeng menyampaikan apresiasi mendalam kepada Gubernur Sulsel atas komitmennya dalam membuka akses, memperluas peluang, dan menumbuhkan semangat juang generasi muda Sulawesi Selatan di kancah dunia. Dukungan Gubernur tidak hanya menjadi bantuan teknis, tetapi juga menjadi suntikan motivasi besar bagi para siswa untuk membawa nama baik Sulawesi Selatan dan Indonesia dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab. Prestasi Zakiyah dan Maraya menjadi bukti konkret bahwa dengan kepemimpinan visioner, kebijakan yang berpihak pada pendidikan, dan keberpihakan pada talenta muda, Sulawesi Selatan mampu melahirkan inovator kelas dunia dan memperkuat reputasi daerah di mata internasional.

Read More

SMAN 1 Bantaeng Persembahkan Medali Emas dan Penghargaan Khusus di Ajang Internasional World Youth STEM Invention & Innovation 2026 di Bangkok

BANGKOK, THAILAND, SE – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia pendidikan Indonesia, khususnya dari Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Dua siswi SMAN 1 Bantaeng, Zakiyah Mardani Ratu dan Maraya Rachma Sharlis, berhasil mengharumkan nama bangsa dengan meraih Tiga penghargaan sekaligus, yakni Medali Emas (Gold Medal) dan Special Award for Social Impact & Humanity serta medali untuk presenter terbaik, pada ajang bergengsi tingkat dunia “Awword by The Philippine Youth Scientist Organization for Outstanding Innovation at The World Youth STEM Invention & Innovation 2026.” Kegiatan internasional tersebut berlangsung di Bangkok, Thailand, selama sepekan, mulai 29 Januari hingga 3 Februari 2026, dan diikuti oleh para pelajar, peneliti muda, serta inovator dari berbagai negara di Asia dan dunia. Ajang ini menjadi wadah unjuk kreativitas, inovasi, serta kepedulian generasi muda terhadap isu-isu global, khususnya di bidang sains, teknologi, lingkungan, dan kesehatan. Dalam kompetisi tersebut, Zakiyah dan Maraya mempresentasikan karya inovasi berjudul: “Veston TB: The Potential of Soursop Leaves (Annona Muricata L) as Nonmicroplastic Tea Bags in Preventing the Risk of Cancer.” Karya ini mengangkat gagasan pemanfaatan daun sirsak sebagai bahan kantong teh nonmikroplastik yang ramah lingkungan serta memiliki potensi manfaat kesehatan dalam membantu mencegah risiko kanker. Inovasi ini dinilai unggul karena memadukan aspek kesehatan, lingkungan, dan kebermanfaatan sosial, sehingga mendapat apresiasi tinggi dari dewan juri internasional. Atas keunggulan tersebut, tim Indonesia dari SMAN 1 Bantaeng dianugerahi Medali Emas sebagai penghargaan tertinggi dalam kategori inovasi, sekaligus memperoleh Special Award for Social Impact & Humanity, sebuah penghargaan khusus yang diberikan kepada karya yang memiliki dampak sosial dan kemanusiaan yang kuat. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan Kedutaan Besar Malaysia dan President of the Philippine Youth Scientist Organization, Dr. Mutakhir Saeed Bhatti, dalam sesi penganugerahan resmi yang dihadiri oleh delegasi berbagai negara. Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran pembimbing Ibu Herlina Wellang, S.Pd., M.Pd., yang secara konsisten mendampingi dan mengarahkan siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Selain itu, dukungan penuh juga diberikan oleh Kepala SMAN 1 Bantaeng, Dr. Wahid Hidayat, S.Pd., M.Pd., yang selama ini mendorong pengembangan potensi akademik dan nonakademik siswa melalui berbagai program pembinaan ekstrakurikuler di sekolah. Dalam pelaksanaan kegiatan di Bangkok, para siswa juga didampingi oleh orang tua, yakni Ahmad Tabariadi, S.Pd. selaku orang tua Zakiyah Mardani Ratu, serta Asriudy Asman, S.E. selaku orang tua/wali Maraya Rachma Sharlis, sebagai bentuk dukungan moral dan pendampingan langsung selama kompetisi berlangsung. Kepala SMAN 1 Bantaeng, Dr. Wahid Hidayat, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil sinergi antara semangat pantang menyerah siswa, pendampingan yang tulus oleh para guru, dukungan seluruh warga sekolah, serta seluruh komponen yang memberikan support dan dukungan. “Keluarga Besar SMAN 1 Bantaeng menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Gubernur Sulawesi Selatan, Bapak Andi Sudirman Sulaiman, atas perhatian, fasilitasi, dukungan, dan support penuh yang diberikan kepada anak-anak kami, sehingga Alhamdulillah dapat mewakili Indonesia pada ajang internasional World Youth STEM Invention Innovation 2026 di Bangkok, Thailand, yang dilaksanakan pada tanggal 29 Januari–2 Februari 2026″ tuturnya Dukungan Gubernur menjadi motivasi besar bagi anak-anak kami untuk tampil dengan percaya diri, penuh semangat, dan membawa nama baik Sulawesi Selatan serta Indonesia di kancah internasional. “Semoga Allah SWT membalas seluruh kebaikan dan kepedulian Bapak Gubernur dengan keberkahan, kesehatan, dan kesuksesan dalam memimpin Sulawesi Selatan.” ucapnya   Selain itu, keluarga besar SMAN 1 Bantaeng juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, serta Bupati Bantaeng beserta jajaran atas perhatian dan dukungan terhadap pengembangan prestasi siswa di tingkat nasional maupun internasional. Prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa daerah mampu bersaing di panggung global dengan ide-ide inovatif yang berorientasi pada solusi masalah nyata. Keberhasilan Zakiyah dan Maraya diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berinovasi, berkarya, serta berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Dengan raihan ini, SMAN 1 Bantaeng kembali menegaskan posisinya sebagai sekolah yang konsisten melahirkan prestasi hingga ke tingkat internasional, sekaligus memperkuat citra Kabupaten Bantaeng dan Provinsi Sulawesi Selatan di mata dunia.

Read More

Zakiyah Ratu Siswa SMAN 1 Bantaeng Wakili Indonesia di Ajang STEM Internasional

BANTAENG, SE — Nama Zakiyah Mardani Ratu kini menembus batas lokal. Siswi SMAN 1 Bantaeng yang akrab disapa Ratu ini resmi mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi World STEM Youth Invention Innovation (WYSII) 2025 di Bangkok, Thailand. Prestasi ini bukan sensasi sesaat, melainkan hasil tempaan panjang yang keras dan terukur. Ratu adalah anak pertama dari dua bersaudara, putri pasangan Ahmad Tabariadi dan Asriyani. Sejak kecil, hidupnya berjalan dalam ritme disipliN, belajar terjadwal, target jelas, dan konsistensi tanpa banyak kompromi. Bakat diasah, bukan dibiarkan liar. Lingkungan keluarga menjadi fondasi utama Orang tua hadir penuh, bukan sekadar memberi izin, tetapi mengawasi, mengarahkan, dan menuntut tanggung jawab. Tidak ada pola asuh setengah-setengah dalam perjalanan akademik Ratu. Tabariadi, sang ayah yang berprofesi sebagai guru, menyebut keunggulan Ratu bukan kebetulan. Sejak kelas satu hingga kelas enam SD, Ratu selalu bertengger di peringkat teratas. Prestasi itu konsisten, bukan sesekali muncul lalu menghilang. Bahkan sebelum masuk SD, Ratu sudah melampaui standar usianya. “Waktu TK, dia sudah membaca surat kabar,” ujar Tabariadi, Kamis, 22 Januari 2026. Literasi menjadi pintu pertama yang membuka jalannya ke dunia pengetahuan. Kesadaran global tumbuh dini Sejak SD, Ratu sendiri yang meminta didatangkan guru privat bahasa Inggris. Ia paham, tanpa bahasa, mimpi hanya akan mentok di pagar daerah. Tidak ada paksaan, hanya kemauan. Lahir pada 4 Agustus 2008, Ratu kini duduk di bangku SMA dan menembus seleksi ketat kompetisi riset nasional. Ia meraih medali emas pada Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2025, prestasi yang menjadi tiket ke level dunia. Bersama rekannya, Maraya Rachma Sharliz, Ratu resmi direkomendasikan mewakili Indonesia di WYSII 2025. Keduanya tampil sebagai satu tim, menguji bukan hanya kecerdasan, tetapi juga kemampuan kolaborasi dan ketahanan mental. Dalam WYSII, peserta ditantang mempresentasikan riset dan inovasi bidang STEM Science, Technology, Engineering, and Mathematics sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Ini bukan lomba seremonial, melainkan arena adu gagasan kelas dunia. Ratu dan tim dibimbing oleh Herlina Wellang, S.Si., M.Pd., dengan dukungan penuh Kepala SMAN 1 Bantaeng, Dr. Wahid Hidayat. Sokongan institusi sekolah menjadi penguat penting agar potensi tidak berhenti di niat. Rombongan dijadwalkan bertolak ke Jakarta pada 28 Januari 2026, lalu melanjutkan perjalanan ke Bangkok keesokan harinya. Ajang WYSII akan berlangsung 29 Januari hingga 2 Februari 2026, membawa nama sekolah, daerah, dan Indonesia. Tabariadi mengutip pesan keras guru pembimbing Ratu, ‘lebih baik menangis sekarang karena lelah belajar, daripada menangis di kemudian hari karena kalah dalam persaingan kerja”. Baginya, pendidikan tak boleh dihitung dengan logika untung atau rugi. Kisah Zakiyah Mardani Ratu mematahkan mitos prestasi instan. Dari Bantaeng, ia membuktikan bahwa disiplin besi, dukungan total keluarga, dan kerja tanpa kompromi mampu mengantar anak daerah berdiri sejajar di panggung global.

Read More

Ratusan Santri se-Indonesia akan Mengikuti Event Nasional IBS di Bulukumba

BULUKUMBA, SE – Ratusan santri  dari berbagai wilayah di tanah air termasuk santri dari banyak daerah di Sulawesi Selatan, mulai  berdatangan di Bulukumba. Kedatangan santri tersebut guna menyemarakkan dan mengikuti lomba pada ajang Indonesia Bahagiankan Santri (IBS) yang direncanakan berlangsung selama tiga hari mulai 16 hingga 18 Januari 2026. Ketua Panitia IBS, Muslim Bahar, mengatakan, para peserta santriwan dan santriwati bersama pendamping, datang dari wilayah di tanah air. Salahsatu rombongan yakni dari Sumatera sudah berada di Pondok Pesantren Assadiyah Mabbarakka dan Hotel Andira Bulukumba. “Mereka menginap gratis selama 3 hari dan tentunya kami selaku tuan rumah memberikan pelayanan terbaik kepada tamu-tamu kita,” kata Muslim Bahar, Kamis, 15 Januari 2026. Selama tiga hari, lanjut dia, para santri akan mengikuti sedikitnya 11 cabang lomba pada kegiatan Indonesia Bahagiakan Santri. Kesebelas lomba itu yakni, Panahan, Syarhil Qur’an, Steritoling Bahasa Arab, Tsaqofah Islamiyah, Murottal Qur’an, Hifzil qur’an 5 Juz, Hifzil Qur’an 10 juz, Nasyid Islamiyah, Video Rells, Fhoto Grafi dan lomba Adzan. Terkait lokasi yang akan ditempati para santri selama berada di Bulukumba, akan menempati sejumlah pondok yang memang sudah dipersiapkan jauh hari sebelum pelaksanaan, termasuk Hotel Andira. “Jadi kami sudah siapkan sejumlah pondok pesantren dan fasilitas hotel untuk menampung para santri selama mengikuti kegiatan IBS sesuai jadwal lomba yang sudah ditetapkan,” ungkap Muslim. Dia menambahkan, para peserta IBS dijadwal telah berada di Bulukumba paling lambat, Kamis ini (15/1/2026). Peserta yang akan mengikuti event nasional ini berdatangan dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Pulau Jawa, Manado, Ambon, Lombok, Sorong Papu, dan seluruh kabupaten/kota se Sulsel akan datang mengikuti event nasional ini. (asa/se/*)

Read More

Bukan Sekadar Aplikasi, Disertasi Wahid Hidayat Bongkar Ilusi Supervisi Digital

MAKASSAR, SE — Wahid Hidayat resmi melangkah ke gerbang doktoral. Kandidat Doktor Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin ini mengikuti sidang yudisium setelah menuntaskan disertasi berjudul Audit Komunikasi Digital Supervisi Akademik di Sekolah Menengah Atas Kabupaten Bantaeng. Karya ini bukan sekadar pemenuhan syarat akademik, melainkan kritik terbuka terhadap praktik supervisi pendidikan yang kerap terjebak euforia digital tanpa substansi. Sidang yudisium berlangsung tegas dan bermartabat di lingkungan Universitas Hasanuddin. Forum akademik ini menjadi panggung pengujian serius atas gagasan dan ketajaman analisis disertasi yang ditawarkan Wahid Hidayat. Tidak ada ruang untuk basa-basi; yang diuji adalah relevansi, keberanian, dan daya dobrak ilmiahnya. Tim penguji diisi akademisi lintas disiplin dengan reputasi kuat. Prof. Dr. Muhammad Jufri, M.Si., Psikolog tampil sebagai penguji eksternal, didampingi Prof. Dr. Muhammad Akbar, M.Si., Prof. Dr. Arianto, S.Sos., M.Si., dan Dr. Alem Febri Sonni, S.Sos., M.Si. dan Bertindak sebagai pimpinan sidang, Pembantu Dekan II Prof. Dr. Hasniati, S.Sos.,M.Si bersama Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. H. Muhammad Farid, M.Si. selaku sekretaris sidang dan ko-promotor, dengan penguatan akademik dari Prof. Dr. Jeanny Maria Fatimah, M.Si. Inti disertasi Wahid Hidayat menohok praktik supervisi akademik yang selama ini mengagungkan teknologi digital seolah menjadi solusi tunggal. Penelitiannya menunjukkan fakta keras: digitalisasi tidak otomatis meningkatkan mutu supervisi jika komunikasi antar-manusia diabaikan. Wahid menegaskan, supervisi yang efektif bukan soal aplikasi, dashboard, atau laporan daring yang rapi. Masalah utamanya justru terletak pada relasi supervisor dan guru yang kering empati, minim dialog, dan miskin kepercayaan. Teknologi, menurutnya, hanya alat, bukan penentu kualitas. Dengan merujuk pemikiran Joseph A. DeVito tentang komunikasi interpersonal dan Manuel Castells tentang masyarakat jaringan, disertasi ini membongkar mitos bahwa konektivitas digital selalu identik dengan efektivitas. Tanpa dialog yang manusiawi, sistem secanggih apa pun hanya akan menjadi mesin administrasi yang dingin. Dari kritik tersebut, Wahid merumuskan Model Supervisi Akademik Digital Interpersonal Hibrida. Model ini memaksa dunia pendidikan berhenti berkhayal tentang keajaiban teknologi dan kembali menempatkan komunikasi tatap muka, empati, dan relasi profesional sebagai jantung pembinaan guru. Gaung capaian akademik ini meluas melampaui ruang sidang. Papan ucapan selamat berjejer sebagai simbol dukungan, mulai dari Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Bupati Bantaeng M. Fathul Fauzy Nurdin, Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, hingga para kepala sekolah dan kolega. Keluarga besar SMAN 1 Bantaeng turut hadir, menegaskan bahwa perjalanan doktoral Wahid Hidayat tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari praktik panjang di dunia pendidikan, dari ruang kelas, dan dari problem nyata supervisi di sekolah. Disertasi ini diharapkan menjadi tamparan sekaligus rujukan bagi pengambil kebijakan pendidikan. Pesannya jelas: era digital tidak boleh mematikan nurani. Supervisi akademik harus cerdas secara teknologi, tetapi tetap tajam secara manusiawi.  

Read More

Wakil Bupati Bantaeng Tegaskan Peran Agama Dalam Pembangunan

BANTAENG, SE –- Wakil Bupati (Wabup) Bantaeng, H Sahabuddin, menghadiri sekaligus memimpin Upacara Peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia tingkat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng. yang digelar di Lapangan Pantai Seruni, Sabtu (3/1). Upacara peringatan Hari Amal Bhakti ke-80 Kementerian Agama RI tahun ini mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, yang menegaskan pentingnya kerukunan dan kolaborasi lintas umat beragama sebagai fondasi kemajuan bangsa. Bertindak selaku pembina upacara, Wabup membacakan sambutan seragam Menteri Agama Republik Indonesia, bahwa umat manusia saat ini menghadapi tantangan besar berupa perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Dunia berada dalam era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity), dimana perubahan terjadi sangat cepat, sulit diprediksi, kompleks, serta penuh ketidakpastian. “Di era ini, kita tidak boleh sekadar menjadi penonton, tetapi harus memiliki kedaulatan atas teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Agama harus hadir sebagai kompas moral dalam menyikapi kemajuan teknologi tersebut,” ujar Wabup. Lebih lanjut disampaikan bahwa 80 tahun perjalanan Kementerian Agama menegaskan perannya sebagai penjaga nalar agama dalam bingkai kebangsaan. Seiring perkembangan zaman, peran tersebut semakin luas dan krusial, meliputi peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan, perawatan kerukunan umat beragama berbasis cinta kemanusiaan, pemberdayaan ekonomi umat serta memastikan agama hadir sebagai sumber solusi atas persoalan bangsa. Tema Hari Amal Bakti ke-80 ini juga menegaskan bahwa kerukunan bukan sekadar ketiadaan konflik melainkan energi kebangsaan. Kerukunan adalah sinergi produktif, di mana perbedaan identitas, keyakinan, dan latar belakang sosial dirajut menjadi kekuatan kolaboratif untuk menggerakkan kemajuan Indonesia. Dalam upacara tersebut, Wabup juga melakukan penyematan Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya kepada ASN Kementerian Agama sebagai bentuk apresiasi atas pengabdian kepada negara. Upacara ini turut dihadiri oleh, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng H Misbahuddin, Kabag Ren Polres Bantaeng Kompol Salman Salam mewakili Kapolres Bantaeng, Pasandi Dim 1410/Bantaeng Lettu CBA Makmur mewakili Dandim 1410/Bantaeng, Kasubsi Penuntutan Izmed Bayu mewakili Kajari Bantaeng, para pimpinan pondok pesantren serta peserta upacara yang terdiri dari tenaga pendidik se-Kabupaten Bantaeng. (*****)

Read More

Ponpes Salafiyah Imamus Sunnah Bantaeng Fokus Bina Kaum Dhuafa dan Yatim Piatu

BANTAENG, SE — Meskipun masih mengalami banyak keterbatasan, namun semangat untuk membantu dan menciptakan generasi islami tak pernah surut dan tidak menjadi penghalang. Didasari dengan kejujuran dan ikhlas, belasan tenaga pendidik dari Pondok Pesantren (Ponpes)  salafiyah Imamus Sunnah Kabupaten Bantaeng, terus berupaya membina dan membangun lembaga pendidikan tersebut. Kepala Ponpes salafiyah Imamus Sunnah, Kyai Muda (KM) Samir, S.Pd.I, SH, mengatakan ponpes ini lahir dari kepedulian terhadap anak-anak yatim dan dhuafa yang sering kali menghadapi keterbatasan dalam akses pendidikan, pembinaan moral, serta pemenuhan kebutuhan dasar. “Kesadaran akan pentingnya memberikan perhatian lebih kepada mereka menjadi dasar utama lembaga ini didirikan. Dengan nilai-nilai Islam sebagai landasan, Ponpes ini akan menjadi wadah untuk memberikan dampak nyata bagi anak santri yang membutuhkan,” ujarnya. Sudah menjadi tekad untuk mengembangkan dan membangun ponpes ini, maka pihaknya kerap melakukan analisa dan kajian terkait pembinaan yang difokuskan pada anak-anak yatim piatu dan dhuafa. “Tidak sedikit anak yatim dan kaum dhuafa yang mengalami putus sekolah. Faktornya karena masalah ekonomi keluarga dan tidak adanya pembinaan secara efektif kepada mereka,” ujar Kyai Muda ini. Seiring dengan perjalanan waktu, Pondok pesantren salafiyah Imamus Sunnah yang berdiri pada tanggal 20 November 2016 bertepatan dengan tahun 1439 H, Sunnah kab Bantaeng dengan NPSN 70002820 dan NSP 510373030021 mendapatkan akreditasi B dari kementerian agama. Dibawah naungan PKPPS (Pendidikan Kesetaraan Pondok Pesantren Salafiyah)  kementerian agama, beralamat Jl. Kesadaran, Gangangbaku I, RT 003/RW 002, Desa Bajiminasa, Kecamatan Gantarangkeke Kab. Bantaeng, terus berbenah diri mulai dari peningkatan kualitas binaan hingga perbaikan fisik pondok yang masih mengandalkan dari bantuan dan sumbangan pihak ketiga. Bahkan menurut Kyai Samir, lembaga binaannya selain berbentuk pesantren juga mewadahi pendidikan formal mulai dari tingkat ULA (SD), WUSTHA (SMP) Dan ULYA (SMA) serta mengelola LKSA (Lembaga kesejahteraan Sosial Anak). Bukan hanya itu, Ponpes Imamus Sunnah juga teregistrasi di Kementerian Sosial dengan nomor registrasi  450/001/TERDAFTAR/DINSOS/XI/2024, dimana anak-anak yang ditampung berlatar belakang yatim, piatu dan anak-anak yang tidak mampu (kaum dhuafa’). Dengan dukungan dari berbagai pihak yang mulai mengalir, baik dari masyarakat umum, donatur, maupun relawan yang memiliki visi yang sama dalam membantu sesama. *PROGRAM UNGGULAN Melalui perjalanan yang penuh tantangan dan atas berkat rahmat Allah SWT, Ponpes ini juga semakin memantapkan perannya dalam membina anak-anak yatim serta kaum dhuafa dengan tiga  program unggulan yang menjadi ciri khas lembaga ini. Ketiganya adalah, penghafalan al Qur’an, penghafalan al Hadits serta Bahasa Arab “Program yang kami laksanakan tersebut semata-mata bertujuan untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dan membangun karakter Islami sejak dini kepada anak-anak,” ungkapnya. Dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat dan mendukung Ponpes salafiyah ini, pihaknya bertekad dan bercita-cita untuk terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas lewat dukungan 15 tenaga pendidik non PNS dan PPPK. Meskipun jumlah santri masih terbatas yang berjumlah 53 orang berasal dari berbagai daerah seperti, Bantaeng, Bulukumba, Jeneponto, Makassar, Enrekang dan Kolaka, lembaga ini diharapkan menjadi pusat pembinaan yang mampu melahirkan generasi mandiri, berakhlak mulia dan mampu berkontribusi bagi masyarakat. Tak kalah pentignya lagi, imbuh Kyai Samir, pihaknya berkomitmen untuk menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih peduli dan inklusif bagi semua lapisan sosial. (asa/se/*)

Read More

SMAN 1 Bantaeng Sabet Adiwiyata Mandiri 2025, Bukti Kerja Nyata, Bukan Seremoni

JAKARTA, SE — SMAN 1 Bantaeng kembali mengguncang panggung nasional setelah resmi meraih Penghargaan Adiwiyata Mandiri Tahun 2025. Ini bukan penghargaan biasa; ini adalah level tertinggi yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup bagi sekolah yang benar-benar hidup dengan budaya lingkungan, bukan sekadar memajang slogan hijau. Penganugerahan berlangsung di Gedung Sasono Utomo TMII, Jakarta, Kamis 11 Desember 2025. Prestasi ini diterima langsung oleh Kepala SMAN 1 Bantaeng, Wahid Hidayat, S.Pd., M.Pd., yang hadir bersama Wakasek Sarpras dan jajaran Tim Adiwiyata motor utama perubahan lingkungan di sekolah tersebut. Wahid menegaskan bahwa penghargaan ini bukan hadiah instan atau pencapaian seremonial. Ini lahir dari proses panjang yang penuh tekanan, konsistensi, dan komitmen tanpa kompromi. Ia menyebut prestasi ini sebagai amanah berat yang menuntut tanggung jawab kolektif dari seluruh keluarga besar sekolah. Dalam pernyataannya, Wahid menekankan bahwa kolaborasi menjadi kunci. Semua bergerak, semua bekerja, semua mengambil peran. Tidak ada pihak yang berdiri sebagai penonton. Semua terlibat dalam membangun ekosistem pendidikan yang peduli lingkungan secara nyata. Ia memberikan penghargaan terbuka kepada berbagai pihak yang selama ini menopang proses besar ini: Gubernur Sulsel, Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, DLH provinsi dan kabupaten, Pemkab Bantaeng, Dinas Kesehatan, serta seluruh mitra, alumni, komite sekolah dan masyarakat yang ikut menciptakan lingkungan sekolah yang lebih baik. Pujian paling tajam ia arahkan kepada Tim Adiwiyata SMAN 1 Bantaeng. Menurutnya, tim ini bukan hanya bekerja; mereka berjuang, mengabdi, dan memastikan standar Adiwiyata tidak sekadar terpenuhi, tetapi dituntaskan dengan kualitas. Wahid mengingatkan bahwa penghargaan ini bukan garis finish. Justru di sinilah babak baru dimulai. Tantangan lebih besar menunggu, yakni menjaga konsistensi, mempertahankan standar, dan memastikan SMAN 1 Bantaeng tetap menjadi role model nasional dalam pendidikan lingkungan. Ia menegaskan bahwa penghargaan tanpa keberlanjutan hanyalah kemasan kosong. Karena itu, fokus sekolah ke depan ialah menjaga agar seluruh sistem pendidikan tetap bergerak dengan nilai-nilai keberlanjutan yang kuat dan terukur. Sementara itu, Drs. Lajetta, M.M., yang turut hadir menerima penghargaan, menegaskan bahwa capaian ini bukan hasil kerja individual. Semua menyatu sebagai tim, bergerak dari satu indikator ke indikator lain, memastikan semuanya terpenuhi tanpa celah. Menurutnya, keberhasilan ini adalah bukti bahwa kerja serius tidak pernah mengkhianati hasil. Tim turun langsung menangani setiap detail, memastikan setiap standar lingkungan bukan hanya dipenuhi, tetapi dihidupkan. Hal senada disampaikan Nur Asri, S.Pd., yang menyebut penghargaan ini sebagai cambuk semangat bagi seluruh unsur sekolah. Ia menegaskan bahwa perjuangan menjaga budaya lingkungan tidak akan berhenti di tahun 2025. Justru sekolah harus semakin agresif mengembangkan inovasi lingkungan ke depan. Nur Asri menambahkan bahwa SMAN 1 Bantaeng sudah berada di jalur tepat sebagai sekolah unggulan. Namun mempertahankan prestasi selalu lebih sulit daripada mencapainya dan itu menuntut soliditas serta disiplin seluruh warga sekolah. Dengan torehan ini, SMAN 1 Bantaeng mempertegas posisinya sebagai sekolah yang bukan hanya pandai bicara tentang lingkungan, tetapi benar-benar mengeksekusi program secara konkret dan berdampak. Prestasi ini menjadi landasan kuat untuk membangun masa depan sekolah yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih visioner.

Read More

Siswa SMAN 1 Bantaeng Lolos Ajang STEM Dunia Tokoh Pendidikan Harap Dapat Perhatian Presiden Prabowo

JAKARTA, SE — Di tengah derasnya persaingan prestasi pelajar Indonesia, muncul satu nama yang mencuri perhatian nasional. Zakiyah Mardani Ratu, siswi kelas XII SMAN 1 Bantaeng, Sulawesi Selatan, melesat sebagai talenta muda yang siap mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Zakiyah bukan sekadar siswi berprestasi. Ia menjadi bukti bahwa pelajar daerah pun mampu mengukir prestasi sains dan teknologi dengan standar global. Di tengah keterbatasan fasilitas, ia berhasil menunjukkan kelasnya melalui kompetisi-kompetisi bergengsi. Salah satu titik balik penting datang dari ajang nasional di Jakarta. Di sana, Zakiyah menyabet Juara 1 berkat presentasi ilmiah berbahasa Inggris yang dinilai unggul dan matang. Pencapaian ini membuktikan ketajaman analisis, kemampuan komunikasi, dan keberanian Zakiyah bersaing di level tinggi. Kemenangan itu menjadi jalan pembuka menuju panggung yang jauh lebih besar. Zakiyah resmi terpilih mewakili Indonesia di World STEM Youth Invention & Innovation (WYSSI) 2026 yang akan digelar di Bangkok, Thailand, pada 29 Januari–2 Februari 2026. Di balik langkah besar itu, ada peran penting sang pembina, Herlina Wellang. Sejak awal, Herlina menjadi figur pendamping yang mengasah kemampuan akademik sekaligus mental bertanding Zakiyah. Pendampingan ini membuat Zakiyah semakin percaya diri menghadapi tekanan kompetisi internasional. Dukungan juga datang dari Kepala SMAN 1 Bantaeng, Wahid Hidayat. Ia memastikan Zakiyah mendapatkan ruang belajar, fasilitas, dan fleksibilitas yang dibutuhkan untuk mempersiapkan diri secara maksimal. Kolaborasi siswa, guru dan pihak sekolah inilah yang membentuk pondasi kuat bagi prestasi Zakiyah. Namun, keberhasilan Zakiyah bukan sekadar soal menang lomba. Ia adalah gambaran kapasitas generasi muda Indonesia untuk bersaing secara ilmiah, kreatif, dan inovatif di tengah persaingan global yang semakin ketat. Atas prestasi itu, tokoh pendidikan nasional Dr. Iswadi turut angkat suara. Ia menyebut pencapaian Zakiyah layak mendapat perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, talenta seperti Zakiyah harus diberi ruang, fasilitas, dan penghargaan sebagai bentuk investasi negara terhadap generasi masa depan. Dr. Iswadi menilai dukungan pemerintah akan menjadi pesan kuat bahwa prestasi akademik di bidang STEM tidak hanya diapresiasi, tetapi juga diprioritaskan. Ia menegaskan bahwa pencapaian Zakiyah mencerminkan potensi besar bangsa dalam menghadapi tantangan era teknologi. Lebih jauh, ia berharap pemerintah membuka peluang beasiswa atau penerimaan khusus di perguruan tinggi bagi Zakiyah sebagai bentuk penghargaan konkret. Menurutnya, langkah seperti ini akan memicu semangat generasi muda lainnya untuk berjuang di bidang sains dan inovasi. Di sisi lain, Zakiyah tetap tampil rendah hati meski prestasinya menanjak. Ia memandang setiap kompetisi sebagai proses belajar, bukan sekadar arena mencari trofi. Kematangannya dalam bersikap membuatnya semakin siap menghadapi panggung internasional. Ketekunan dan dedikasi Zakiyah menjadi inspirasi bagi teman sebayanya, guru, hingga masyarakat. Ia membuktikan bahwa kerja keras, lingkungan yang mendukung, dan tekad kuat mampu membawa pelajar dari daerah kecil menuju ajang ilmiah dunia. Kisah Zakiyah juga mengingatkan bahwa prestasi pelajar tidak lahir dari satu faktor saja. Ada peran keluarga, sekolah, pembina, dan ekosistem pendidikan yang saling menopang. Kini, jelang keberangkatannya ke WYSSI 2026, Zakiyah membawa harapan besar bagi Indonesia. Ia menjadi simbol bahwa talenta dari daerah pun mampu bersaing global. Prestasi Zakiyah Mardani Ratu bukan hanya catatan pribadi. Ini adalah pesan kuat bahwa Indonesia memiliki generasi STEM yang siap tampil, bersaing, dan menang di pentas internasional. Dengan dukungan penuh, termasuk harapan akan perhatian Presiden, Zakiyah dapat melangkah lebih jauh dan menjadi teladan bagi generasi penerus.

Read More