BANTAENG, SE — Nama Zakiyah Mardani Ratu kini menembus batas lokal. Siswi SMAN 1 Bantaeng yang akrab disapa Ratu ini resmi mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi World STEM Youth Invention Innovation (WYSII) 2025 di Bangkok, Thailand. Prestasi ini bukan sensasi sesaat, melainkan hasil tempaan panjang yang keras dan terukur.
Ratu adalah anak pertama dari dua bersaudara, putri pasangan Ahmad Tabariadi dan Asriyani. Sejak kecil, hidupnya berjalan dalam ritme disipliN, belajar terjadwal, target jelas, dan konsistensi tanpa banyak kompromi. Bakat diasah, bukan dibiarkan liar.
Lingkungan keluarga menjadi fondasi utama
Orang tua hadir penuh, bukan sekadar memberi izin, tetapi mengawasi, mengarahkan, dan menuntut tanggung jawab. Tidak ada pola asuh setengah-setengah dalam perjalanan akademik Ratu.
Tabariadi, sang ayah yang berprofesi sebagai guru, menyebut keunggulan Ratu bukan kebetulan. Sejak kelas satu hingga kelas enam SD, Ratu selalu bertengger di peringkat teratas. Prestasi itu konsisten, bukan sesekali muncul lalu menghilang.
Bahkan sebelum masuk SD, Ratu sudah melampaui standar usianya. “Waktu TK, dia sudah membaca surat kabar,” ujar Tabariadi, Kamis, 22 Januari 2026. Literasi menjadi pintu pertama yang membuka jalannya ke dunia pengetahuan.
Kesadaran global tumbuh dini
Sejak SD, Ratu sendiri yang meminta didatangkan guru privat bahasa Inggris. Ia paham, tanpa bahasa, mimpi hanya akan mentok di pagar daerah. Tidak ada paksaan, hanya kemauan.
Lahir pada 4 Agustus 2008, Ratu kini duduk di bangku SMA dan menembus seleksi ketat kompetisi riset nasional. Ia meraih medali emas pada Kompetisi Riset dan Inovasi Siswa Indonesia (KREASI) 2025, prestasi yang menjadi tiket ke level dunia.
Bersama rekannya, Maraya Rachma Sharliz, Ratu resmi direkomendasikan mewakili Indonesia di WYSII 2025. Keduanya tampil sebagai satu tim, menguji bukan hanya kecerdasan, tetapi juga kemampuan kolaborasi dan ketahanan mental.
Dalam WYSII, peserta ditantang mempresentasikan riset dan inovasi bidang STEM Science, Technology, Engineering, and Mathematics sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Ini bukan lomba seremonial, melainkan arena adu gagasan kelas dunia.
Ratu dan tim dibimbing oleh Herlina Wellang, S.Si., M.Pd., dengan dukungan penuh Kepala SMAN 1 Bantaeng, Dr. Wahid Hidayat. Sokongan institusi sekolah menjadi penguat penting agar potensi tidak berhenti di niat.
Rombongan dijadwalkan bertolak ke Jakarta pada 28 Januari 2026, lalu melanjutkan perjalanan ke Bangkok keesokan harinya. Ajang WYSII akan berlangsung 29 Januari hingga 2 Februari 2026, membawa nama sekolah, daerah, dan Indonesia.
Tabariadi mengutip pesan keras guru pembimbing Ratu, ‘lebih baik menangis sekarang karena lelah belajar, daripada menangis di kemudian hari karena kalah dalam persaingan kerja”. Baginya, pendidikan tak boleh dihitung dengan logika untung atau rugi.
Kisah Zakiyah Mardani Ratu mematahkan mitos prestasi instan. Dari Bantaeng, ia membuktikan bahwa disiplin besi, dukungan total keluarga, dan kerja tanpa kompromi mampu mengantar anak daerah berdiri sejajar di panggung global.
